Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahok. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Januari 2015

Ahok: Kalau Lu Ngajak Ribut, Gue Makin Demen

Mucara.com -   Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mempersilakan pengacara mantan Kepala Dinas Perhubungan DKI Udar Pristono, Hasan Basri, yang berencana menggugatnya.

Basuki mengaku tak takut karena merasa tak bersalah dengan ucapannya selama ini. Menurut Basuki, semua yang ia ucapkan bersumber dari berita yang ada di media massa.

"Ini laporan Tempo. Tempo kan melakukan investigasi kalau ada pelanggaran, ada yang kurang ajar. Kalau keberatan, ya gugat juga dong Tempo," kata Basuki di Balaikota Jakarta, Rabu (21/5/2014).

Apalagi, kata Basuki, ia memiliki data dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang menyebutkan, proyek pengadaan bus dari Tiongkok pada 2013 memang bermasalah.

Lebih lanjut, Basuki mengaku bahwa dia bisa saja menuntut balik Pristono atas banyaknya bus-bus proyek pengadaan 2012 yang sudah rusak dan tak dapat beroperasi.

"Jadi gila itu pengacara kalau mau main begitu. Jadi kasih tahu si Udar, kasih tahu pengacaranya. Makin ngajak gue ribut, makin sama-sama kita ribut. Sekarang saya sudah diam-diam saja nih. Tapi kalau lu ngajak gue ribut, gue makin demen," tukas pria yang akrab disapa Ahok itu.

Sebelumnya, Hasan Basri menilai, Basuki patut diperiksa terkait kasus korupsi yang menjerat kliennya. Menurutnya, ditetapkannya Pristono sebagai tersangka tidak terlepas dari celotehan Basuki di media massa.

Hasan menambahkan, opini yang dilontarkan Basuki itu berdampak pada kliennya, yang dituduhkan tanpa mengetahui duduk persoalan yang ada. Padahal tuduhan itu seharusnya sudah melalui sebuah proses pemeriksaan internal terlebih dahulu agar diketahui siapa yang salah dalam pengadaan bus transjakarta ini.

Jumat, 30 Januari 2015

Ahok: Bus Mercedes-Benz Tidak Lulus, Bus Weichai Kok Bisa?

 Mucara.com -   Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama heran, izin operasional lima bus Mercedes-Benz pemberian Tahir Foundation tidak kunjung keluar dari Kementerian Perhubungan. Sementara itu, bus Weichai asal Tiongkok bisa mendapatkan izin operasional.

"Makanya saya bilang, kalau Anda bilang bus Mercedes-Benz ini tidak lulus, maka ada orang yang menyuap Anda sampai bus Weichai bisa lulus. Saya bilang saja blakblakan, cuma kami lagi perbaikan juga. Makanya tadi kami duduk bersama," kata Basuki seusai bertemu Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Kemenhub Djoko Sasono, di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (30/1/2015).

Basuki menjelaskan, hingga saat ini, ia masih terus menahan membeli bus tingkat pabrikan Tiongkok, Weichai, untuk menerima bantuan bus yang spesifikasinya lebih baik dan berkualitas. Basuki menginginkan Jakarta memiliki bus dengan kualitas yang paling baik.

Menurut dia, seharusnya Kemenhub bisa mengubah salah satu pasal di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Kendaraan. Di dalam Bab II Pasal 5 tentang jenis dan fungsi kendaraan disebutkan bahwa bus tingkat memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) paling sedikit 21.000 kilogram sampai 24.000 kilogram. Sementara itu, bus tingkat merek Mercedes-Benz sumbangan Tahir Foundation itu memiliki berat 18.000 kilogram atau 18 ton.

"PP apa pun itu bisa diubah. Kemenhub jangan aneh-aneh dong. Cuma kitab suci yang kami percaya atau enggak. Percaya itu (kitab suci) yang enggak bisa diubah. Saya katakan begini karena saya tahan-tahan dimarahi orang Jakarta karena menahan bus tingkat," kata pria yang akrab disapa Ahok itu.

Sedianya, lima bus tingkat yang didatangkan pada 10 Desember 2014 lalu itu beroperasi di sepanjang rute Jalan MH Thamrin-Medan Merdeka Barat. Hingga kini, Pemprov DKI hanya mengandalkan lima bus tingkat City Tour Jakarta, dan transjakarta tunggal yang diperbantukan.

Sambangi Balai Kota, Dirjen Perhubungan Darat Malah "Disemprot" Ahok

Mucara.com -    Direktur Jenderal (Dirjen) Perhubungan Kementerian Perhubungan Djoko Sasono menyambangi Balai Kota Jakarta untuk bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Sayangnya kedatangannya itu malah disambut kekesalan sang tuan rumah. "Saya mempertanyakan kenapa sebuah PP (peraturan pemerintah) dibuat untuk menghambat orang gitu lho? Misalnya contoh, dia katakan sebenarnya bis itu enggak boleh pakai chasis (kerangka bawah mobil)? Saya tanya Kopami Kopaja pakai chasis truk bukan? Iya, itu kan soal keamanan dan kenyamanan dong," kata Basuki dengan suara meninggi, di Balaikota, Jumat (30/1/2015).

Basuki mengaku kesal kepada Kemenhub karena masih menghambat operasional bus sumbangan Tahir Foundation bermerek Mercedes Benz. Hingga kini, lima bus tingkat gratis yang akan melintas di sepanjang rute pelarangan motor, Jalan MH Thamrin-Medan Merdeka Barat masih belum beroperasi.

Basuki mengaku pihak Kemenhub menuding bus sumbangan tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi. Ia kesal hanya karena berat bus sumbangan itu lebih ringan dari aturan berat bus di dalam PP Nomor 5 Tahun 2012 tentang kendaraan.

Kata Djoko, seperti ditirukan ucapannya oleh Basuki, berat bus sumbangan Tahir itu beratnya 18 ton. Sementara seharusnya berat bus 24 ton. "Lebih ringan makin baik dong? Dia bilang enggak sesuai PP beratnya, makanya saya ngamuk dan kesal. Masak Mercedes Benz enggak sesuai spek dan bus buatan China Wei Chai itu dibilang sesuai spesifikasi," kata Basuki.

Adapun PP yang mendasari aturan berat bus itu adalah PP Nomor 55 Tahun 2012 tentang kendaraan, bab II pasal 5 tentang jenis dan fungsi kendaraan yang menyebutkan bahwa bus tingkat paling sedikit memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB) paling sedikit adalah 21.000 kilogram sampai 24.000 kilogram.

Dimarahi Ahok, Dirjen Perhubungan Darat Langsung Lapor ke Jonan

Mucara.com -   Seusai bertemu Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono enggan berkomentar. Ia mengaku hanya ingin melaporkan hasil pertemuannya dengan Basuki kepada Menteri Perhubungan Ignasius Jonan.

"Aduh, saya belum bisa ngomong, saya mau lapor Pak Menteri dulu. Nanti saja ya," kata Djoko sambil menutup pintu mobil dinasnya, di Balai Kota, Jumat (30/1/2015).

Djoko kena "semprot" Basuki, yang mengaku kesal pada Kemenhub karena menghambat operasional bus sumbangan Tahir Foundation bermerek Mercedes Benz. Hingga kini, lima bus tingkat gratis yang akan melintas di sepanjang rute pelarangan motor, di Jalan MH Thamrin-Medan Merdeka Barat, masih belum beroperasi.

Basuki memaparkan, Kemenhub menuding bus sumbangan tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi dan tidak lolos uji tipe. Ia kesal hanya karena berat bus sumbangan itu lebih ringan dari aturan berat bus di dalam PP Nomor 5 Tahun 2012 tentang kendaraan.

Menurut Bab II Pasal 5 tentang jenis dan fungsi kendaraan, bus tingkat paling sedikit memiliki jumlah berat yang diperbolehkan (JBB), yakni 21.000 kilogram sampai 24.000 kilogram. (Baca: Ahok: Bus Mercedes-Benz Tidak Lulus, Bus Weichai Kok Bisa?)

"Lebih ringan makin baik dong? Dia bilang enggak sesuai PP beratnya, makanya saya ngamuk dan kesal. Masa Mercedes Benz enggak sesuai spesifikasi dan bus buatan China Wei Chai itu dibilang sesuai spesifikasi. Saya mempertanyakan kenapa sebuah PP (peraturan pemerintah) dibuat untuk menghambat orang gitu loh," kata Basuki.

Kamis, 29 Januari 2015

Komentar Ahok Terkait Pro-Kontra Budi Gunawan

Mucara.com -   Soal kontroversi pencalonan Komjen Pol Budi Gunawan oleh Presiden Joko Widodo, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bersikap netral. Menurut dia, sebagai Presiden, Jokowi memiliki hak prerogatif.

"Kalau presiden merasa (BG) tersangka, mungkin presiden akan kirim surat ke DPR membatalkan pencalonan BG (Budi Gunawan). Itu presiden yang putuskan, saya enggak tahu," kata Basuki di Balaikota, Rabu (28/1/2015).

Mantan anggota Komisi II DPR RI itu menjelaskan, kondisi Budi berbeda dengan kondisi Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Bareskrim Polri. Menurut dia, Bambang harus mundur apabila menjadi tersangka.

"Kalau kasus KPK, kamu jadi tersangka saja sudah harus mundur, itu Undang-undang tentang KPK. Tapi Undang-undang yang lain, polisi tersangka tidak harus mundur," kata penerima Bung Hatta Anti Corruption Awards 2013 itu.

Dia menjelaskan, anggota kepolisian yang menjadi tersangka dalam sebuah kasus harus mundur apabila kasusnya sudah berkekuatan hukum tetap (inkrah).

Budi ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan penerimaan hadiah atau janji terkait transaksi mencurigakan. Sedangkan, Bambang ditetapkan sebagai tersangka dugaan memerintahkan memberikan keterangan palsu dalam persidangan sengketa Pilkada Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah di Mahkamah Konstitusi tahun 2010.

Rabu, 10 Desember 2014

Hashim: Ini Bukan Karena Ahok

Sambil tertawa, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo membantah anggapan pengunduran dirinya sebagai Ketua Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Taman Margasatwa Ragunan karena hubungannya yang tidak baik dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Dia juga menepis tudingan bahwa hubungannya dengan Ahok tidak baik. "Hahahaha tidak ada itu. Ini pure urusan binatang. Kami tadi senyum-senyum melempar joke dan bercanda-bercanda di dalam," kata Hashim, di Balaikota, Rabu (10/12/2014).

Hashim mengaku sama sekali tidak membicarakan permasalahan politik dengan Ahok. Ia mengatakan, pemerintahan ibu kota di bawah kepemimpinan Basuki harus tetap konsisten menjaga Ragunan.

Menurut dia, masih banyak yang harus diperbaiki di sana. Misalnya perluasan lahan parkir, pembangunan sarana monorel wisata di dalam Ragunan, dan lainnya. Selain itu, lanjut dia, Ahok juga harus dapat merealisasikan rencana Night Safari Park seperti di kebun binatang di Singapura.

"Sekarang program itu harus dilanjutkan oleh orang lain. Seharusnya masa jabatan saya selesai 5 tahun, tapi saya senang dalam 1,5 tahun jabatan ini sudah banyak yang saya perbuat untuk Ragunan," kata adik kandung Prabowo Subianto tersebut.

Pertemuan ini merupakan yang pertama sejak Ahok mengundurkan diri dari Partai Gerindra. Hubungan Ahok dengan Hashim sempat merenggang ketika Ahok hengkang dari partai bentukan Prabowo itu. Ketika itu Hashim menyesalkan keputusan Ahok yang tidak berkonsultasi dulu dengan kader Gerindra lainnya.

Hashim: Ini Bukan gara-gara Ahok

Sambil tertawa, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo membantah anggapan pengunduran dirinya sebagai Ketua Dewan Pengawas Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Taman Margasatwa Ragunan karena hubungannya yang tidak baik dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Dia juga menepis tudingan bahwa hubungannya dengan Ahok tidak baik. "Hahahaha tidak ada itu. Ini pure urusan binatang. Kami tadi senyum-senyum melempar joke dan bercanda-bercanda di dalam," kata Hashim, di Balaikota, Rabu (10/12/2014).

Hashim mengaku sama sekali tidak membicarakan permasalahan politik dengan Ahok. Ia mengatakan, pemerintahan ibu kota di bawah kepemimpinan Basuki harus tetap konsisten menjaga Ragunan.

Menurut dia, masih banyak yang harus diperbaiki di sana. Misalnya perluasan lahan parkir, pembangunan sarana monorel wisata di dalam Ragunan, dan lainnya. Selain itu, lanjut dia, Ahok juga harus dapat merealisasikan rencana Night Safari Park seperti di kebun binatang di Singapura.

"Sekarang program itu harus dilanjutkan oleh orang lain. Seharusnya masa jabatan saya selesai 5 tahun, tapi saya senang dalam 1,5 tahun jabatan ini sudah banyak yang saya perbuat untuk Ragunan," kata adik kandung Prabowo Subianto tersebut.

Pertemuan ini merupakan yang pertama sejak Ahok mengundurkan diri dari Partai Gerindra. Hubungan Ahok dengan Hashim sempat merenggang ketika Ahok hengkang dari partai bentukan Prabowo itu. Ketika itu Hashim menyesalkan keputusan Ahok yang tidak berkonsultasi dulu dengan kader Gerindra lainnya.

Ahok: Susah Cari Orang seperti Pak Hashim, Punya Duit dan Mau Kerja

Gubernur DKI Jakarta Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama dengan berat hati menerima pengunduran diri Hashim Djojohadikusumo dari Ketua Dewan Pengurus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Taman Margasatwa Ragunan (TMR). Kini, ia mengaku kesulitan untuk mencari sosok pengganti Hashim di jabatan tersebut.

"Dengan berat hatilah (menerima pengunduran diri Hashim). Nanti mesti cari yang mirip-mirip Pak Hashim. Susah cari pengganti yang punya duit, tetapi mau kerja," kata Basuki, di Balaikota, Rabu (10/12/2014). [Baca: Hashim Mundur dari Jabatannya di Taman Margasatwa Ragunan]

Basuki mengaku bakal hati-hati dalam memilih Ketua Dewan Pengurus BLUD TMR. Menurut dia, orang yang bakal menduduki posisi itu adalah orang yang memiliki kecintaan kepada binatang dan memiliki hati untuk merevitalisasi TMR. [Baca: Hashim: Ini Bukan gara-gara Ahok]

Selama menjabat sebagai Ketua Dewan Pengurus BLUD TMR, Basuki mengklaim Hashim tidak pernah menerima gaji dari DKI. "Kalau kita mau bicara jujur, pernah enggak ada orang yang mau melakukan pekerjaan rutin, tetapi enggak dibayar, buang waktu, dan membuat laporan lengkap? Ini susah cari orang seperti Pak Hashim," kata Basuki.

Pada kesempatan yang sama, Hashim mengaku sudah memberi rekomendasi nama pejabat pengganti di jabatan yang ditinggalkannya kepada Basuki.

Hashim sudah memberi tahu kepada Basuki dokter hewan mana saja yang berkompeten serta pejabat mana saja yang bisa bekerja. "Nanti saya kasih rekomendasi pejabatnya ke Pak Ahok (Basuki)," kata Hashim. 

Ahok Angkat Pelaku Rasis Terhadap Dirinya

Gubernur DKI Jakarta Basuki mengaku memiliki daftar pejabat maupun PNS DKI mana saja yang dahulu pernah melakukan black campaign (kampanye negatif) terhadap dirinya dengan Joko Widodo saat Pilkada DKI 2012 lalu. Kendati demikian, dia mengaku bukan tipe pendendam. 

Atas sikapnya ini, banyak pendukungnya terdahulu dalam Pilkada yang kecewa mengapa Basuki memperlakukan sama para PNS DKI yang dulu mendukung Jokowi-Basuki maupun pendukung pasangan calon Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli. 

"Saya punya list-nya lengkap PNS atau pejabat mana saja yang rasis atau kampanye negatif. Termasuk Pak Sekda (Saefullah) itu termasuk yang paling tidak dukung kami, kampanye negatif dan sangat mendukung Pak Fauzi Bowo. Tapi saya enggak mau pusing, karena tidak ada orang yang sempurna," kata Basuki yang diiringi gelak tawa para PNS DKI di dalam Talkshow Strategi Tata Kelola Anggaran Efektif, di Balaikota, Kamis (11/12/2014). 

Pada acara itu, Saefullah tidak terlihat hadir. Beberapa pejabat DKI yang terlihat hadir seperti Kepala Dinas Kesehatan DKI Dien Emmawati, Kepala Dinas Tata Ruang Gamal Sinurat, dan Asisten Sekda bidang Pemerintahan DKI Mara Oloan Siregar terlihat tertawa mendengar celetukan Basuki tersebut.

Kendati demikian, Basuki mengaku tidak memperlakukan hal berbeda kepada para pejabat yang pernah melakukan kampanye negatif saat Pilkada. Hal ini terlihat dengan diangkatnya jabatan Saefullah dari Wali Kota Jakarta Pusat menjadi Sekda DKI atau PNS nomor satu di Pemprov DKI. 

Keputusan Basuki memilih Saefullah sebagai Sekda DKI pun pernah dipermasalahkan oleh Jokowi saat menjadi Gubernur DKI. Kala itu, Jokowi bertanya kepada Basuki, apakah dia tidak takut dengan Saefullah yang merupakan seorang Betawi dan Muslim kental dan memiliki banyak massa.

"Pak Jokowi bilang, kalau nanti saya ribut dengan Pak Saefullah apa enggak repot karena saya di Jakarta minoritas. Saya bilang, saya tidak mau pikirin hal itu, karena Pak Saefullah itu pejabat yang terbaik untuk jadi Sekda, hasil tes dia paling bagus di antara (pejabat) yang lain," kata Basuki.

Lebih lanjut, Basuki mengaku sudah melupakan "dosa-dosa" lama para pejabat DKI. Ia lebih memilih untuk bekerja bersama dan mewujudkan Jakarta Baru. 

Pada kesempatan itu, Basuki juga menegaskan tidak menggunakan unsur suku, agama, ras, dan golongan dalam memilih pejabat. 

"Kan kalau seleksi ada yang bilang, masak sih di sebuah SKPD isinya orang Jawa atau Batak semua, harus ada orang Betawi-nya satu nih. Saya enggak ada urusan itu, orang dari suku dan agama apa pun selama hasil tesnya baik dan kinerjanya baik, dialah yang berhak menduduki posisi tertentu. Tiga sampai bulan kinerjanya tidak baik, tinggal dipecat, ini namanya prinsip," tegas Basuki.

Ahok Ternyata Bisa Stres Juga

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama ternyata bisa stres juga. Pangkal stresnya adalah kinerja para anak buahnya.

Dia mengaku kesal kepada beberapa pejabat DKI. Semenjak ia memerintah Ibu Kota, banyak berbagai kebijakannya yang tidak dijalankan oleh para jajaran di bawahnya.

"Saya ini orangnya tidak sabaran, kalau punya pekerjaan harus langsung diselesaikan. Kalau tidak, saya langsung stress," kata Basuki, di acara Talkshow Strategi Tata Kelola Anggaran, di Balaikota, Kamis (11/12/2014).

Bahkan, lanjut dia, tak sedikit pejabat DKI yang masih membangkang jika ia memberi instruksi. Salah satu pejabat yang disebutnya membangkang adalah Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI I Made Karmayoga.

Pria yang akrab disapa Ahok itu mengaku pernah menginstruksikan Made untuk melelang posisi pegawai Badan ULP DKI. Namun, Made bersikeras menginginkan pegawai Badan ULP DKI berasal dari pegawai pengadaan barang di masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

"Dia tidak mau, dia minta tiap SKPD kirim dua orang pegawainya untuk bekerja di ULP. Ini namanya teknik pembangkangan, sopan dan mengulur-ulur waktu," kata Basuki kesal.

Akibatnya, kinerja ULP mengecewakan. Basuki pun mencopot jabatan tiga orang pejabat eselon IV ULP DKI medio Oktober lalu. Mereka diketahui menghambat lelang pengadaan barang dan jasa.

Jika SKPD memberi sejumlah uang yang diminta, lelang baru dapat terlaksana. Oleh karena itu, ia berharap perombakan ribuan PNS DKI akhir Desember ini mendapat PNS terbaik di posisinya.

Senin, 01 Desember 2014

Anak Kecil Yang Ikut Demo Ahok

Portal Online - Ahok Vs FPI
Mucara.com — Dari sekian ribu orang yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Jakarta menolak Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta, terdapat dua orang anak kecil. Meski tidak tahu apa-apa, mereka mengaku membenci Basuki.

"Gue benci Ahok! Gue benci Ahok!" teriak kedua bocah ini di mobil pikap Mitsibishi Strada abu-abu yang terparkir di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Jalan Kebon Sirih Raya, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (1/12/2014).

Ketika massa berteriak "Allahu Akbar! Allahu Akbar!", mereka mengikutinya. Keduanya memakai koko putih dan peci. Mereka berdiri di atas mobil pikap serta mengibarkan bendera putih bertuliskan GMJ dan bendera kebangsaan Palestina.

Ketika ditanya mengapa ikut demo, mereka hanya diam dan tertawa tersipu malu. "Enggak tau... he-he-he," ucap salah seorang di antaranya.

Bocah berinisial S ini mengaku diajak kedua orangtuanya dan keluarganya. Sementara temannya, D, mengaku ikut karena penasaran ingin melihat Basuki.

"Kan bensinnya naik. Terus katanya yang naikkin Ahok sama Jokowi. Kan lihatnya di televisi terus, mau lihat aslinya," katanya.

D mengaku tak suka dengan Basuki lantaran menaikkan harga BBM. Dia berencana meminta Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) untuk memecat Basuki. "Pokoknya saya benci Ahok. Nanti kalau ketemu Pak Jokowi, minta dipecatin aja," ucapnya.

Sementara Jalan Kebon Sirih Raya masih dipenuhi massa berpeci putih. Bahkan massa dari Forum Betawi Rempug turut andil menghiasi kemacetan di jalan tersebut.

Saat ini, Jalan Kebon Sirih Raya tak bisa dilewati pengendara lantaran dipenuhi massa yang tengah duduk di tengah jalan atau di depan pagar Gedung DPRD. Tampak juga ratusan kepolisian berjaga-jaga di pintu pagar tersebut.

Gubernur Baru Jakarta Versi GMJ

Portal Online - FPI versus Ahok
Mucara.com — Ketua Forum Betawi Rempug Lutfi Hakim menyatakan Fahrurrozi Ishaq sebagai gubernur untuk menandingi Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

"Takbir untuk gubernur baru kita, Bang Rozi!" kata Lutfi dengan diikuti seruan takbir dari ribuan orang yang berkumpul di depan Gedung DPRD Jakarta.

Fahrurrozi adalah Ketua Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ). Ia juga adalah anggota dari Forum Umat Islam (FUI).

Sebelumnya massa GMJ membentuk Presidium Penyelamat Jakarta yang kemudian menggelar rapat selama 30 menit. Presidium ini terdiri dari kiai dan habib dari Front Pembela Islam (FPI), Forum Umat Islam (FUI), dan GMJ.

Nama Fahrrurozi selalu disebut di setiap unjuk rasa untuk menolak Ahok. Hingga hari ini, ia pun dilantik untuk menjadi gubernur mereka. Massa meyakini Fahrurrozi bisa melengserkan Ahok dari jabatannya sekarang.

Massa yang terdiri dari ribuan orang itu berkumpul di depan Gedung DPRD sejak pukul 10.25. Mereka menyerukan supaya Ahok digantikan dengan gubernur tandingan yang diusung mereka.