Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Januari 2015

Akun Twiter Misterius Ditutup

Pengadilan Turki memerintahkan penutupan sebuah akun Twitter yang memprediksi dengan benar penangkapan 24 orang soal penyadapan atas Presiden Recep Tayyip Erdogan. Dugaan akun itu juga benar atas beberapa penangkapan sebelumnya sepanjang tahun lalu terkait dalam kasus penyadapan juga.

Kejaksaan Turki menyatakan, sedang mencari identitas pemilik akun Twitter dengan nama Fuat Avni yang misterius itu, yang menyebut Presiden Erdogan sebagai tiran.

Sama seperti penangkapan sebelumnya, Twitter Fuat Avni, memuat pesan tentang dugaan penangkapan sebelum penangkapannya berlangsung.

Hari Selasa (20/01), polisi menangkap 24 orang terkait dengan perusahaan telekomunikasi dan lembaga sains dengan dugaan menyadap secara tidak sah percakapan Presiden Erdogan dan politisi lainnya.

Penangkapan ini merupakan yang terbaru dari serangkaian razia dalam kasus bocornya sejumlah pembicaraan telepon, antara lain melibatkan Presiden Erdogan, yang diduga menyiratkan korupsi.

Tikam 10 Warga, Polisi Israel Tembak Seorang Warga Palestina

Polisi Israel melaporkan, mereka telah menembak seorang pria Palestina dari Tepi Barat yang dituduh menikam sekitar 10 orang di sebuah bus di pusat Kota Tel Aviv. Sebanyak tiga dari korban tikaman sedang dalam kondisi kritis.

“Tersangka adalah seorang warga Palestina dari Tulkarem berusia 23 tahun,” ujar Jubir Kepolisian Luba Samri.

Tersangka, ujar kepolisian Israel, menyerang orang yang berada di dalam dan di luar bus saat moda transportasi itu berada di Jembatan Maariv. Aksi itu kini ditangani masuk sebagai kategori serangan teror.

Pelaku mencoba kabur dari lokasi kejadian setelah melangsungkan serangannya dan menderita luka ringan setelah kakinya ditembak, kata pejabat kepolisian Micky Rosenfeld.

Polisi juga masih berpatroli daerah tersebut untuk menghindari serangan lainnya. Jalanan di sekitar Jembatan Maariv pun ditutup.

Obama: AS Tetap Akan Buru Teroris

Mucara.com -   Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama meminta persetujuan parlemen untuk menggunakan kekuatan melawan kelompok milisiIslamic State Iraq and Syria(ISIS) dan negaranya punya hak untuk bertindak secara sepihak guna memburu teroris.

Dalam pidato kenegaraan tahunan atau State of the Union, pada Selasa (20/01) malam waktu setempat, Obama mengaku berupaya menghentikan pertumbuhan kelompok ISIS di Irak dan Suriah.

Di kedua negara itu, ujarnya, AS memimpin koalisi negara-negara Arab untuk menghancurkan kelompok tersebut. Bahkan di Suriah, AS mendukung oposisi moderat yang dapat mewujudkan upaya tersebut.

“Malam ini, saya menyerukan kepada Kongres untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita bersatu dalam misi ini dengan menyetujui sebuah resolusi untuk mengizinkan penggunaan kekuatan terhadap ISIS,”  kata Obama.

“Kami akan terus memburu para teroris dan membubarkan jaringan mereka, dan kami berhak untuk bertindak secara sepihak,” tambahnya.

Ketua DPR Boehner Undang PM Israel ke Kongres AS

Mucara.com -    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat John Boehner, mengundang Perdana Menteri (pM) Israel, Benjamin Netanyahu, untuk berbicara di Kongres tentang Iran.

Langkah ini dilihat sebagai tantangan atas ancaman Presiden Barack Obama untuk memveto semua sanksi tambahan atas negara itu, seperti yang disampaikannya dalam pidato kenegaraan tahunan. Gedung Putih yakin sanksi baru atas Iran akan menghambat perundingan atas program nuklir Iran.

Boehner mengukuhkan, dia mengundang Netanyahu untuk berbicara di Kongres tentang ancaman Islam radikal dan Iran atas keamanan dan gaya hidup. Dia juga menuduh, Presiden Obama menutu-nutupi ancaman kelompok Islam militan dan program nuklir Iran dalam pidatonya.

Obama meminta Kongres agar mensahkan sebuah resolusi untuk menggunakan kekuatan atas militan Negara Islam dan akan memveto setiap rancangan undang-undang yang mengusulkan sanksi baru atas Iran.

Juru bicara Gedung Putih, Rabu (21/01), mengatakan undangan Boehner untuk Netanyahu itu melanggar ‘protokol yang biasa’ namun pemerintah masih menunggu sampai Israel menjabarkan rencananya. Namun, perdana menteri Israel belum menanggapi undangan itu secara resmi.

Walikota Paris Tuntut Fox News

Walikota Paris Anne Hidalgo mengatakan, pihaknya akan menuntut Fox News karena pemberitaan tidak tepat (bohong) tentang kota Paris pasca serangan terhadap majalah Charlie Hebdo.

Anne Hidalgo menyebut, penduduk Paris dihina dan citra kota itu rusak. Fox sudah meminta maaf karena membuat kesalahan yang disesalkan saat siaran terkait penduduk Muslim.

“Ketika kami diejek dan saat kami dipandang seperti itu, maka saya pikir kami akan menuntut. Saya pikir kami akan ke pengadilan, agar kata-kata tersebut dicabut,” tegas Hidalgo.

Wakil presiden eksekutif Fox News Michael Clemente menanggapi permasalahan ini. “Kami berempati dengan warga Prancis sementara mereka menjalani proses penyembuhan dan melakukan kegiatan sehari-hari. Meskipun demikian, kami memandang pernyataan walikota tentang penuntutan tidak pada tempatnya,” ujarnya.

Sebelumnya, Fox News memberitakan terdapat daerah yang tidak didatangi siapapun di ibukota Prancis itu, baik polisi maupun warga bukan Muslim menolak untuk mendatanginya.

Perancis Perkuat Intelijen Awasi Terorisme

Perdana Menteri Prancis Manuel Valls mengungkapkan, Prancis akan merekrut 2.680 personel intelijen tambahan menyusul penembakan-penembakan oleh orang-orang berhaluan Islam ekstrem di Paris dua minggu lalu. Tambahan personel intelijen itu adalah bagian dari serangkaian kebijakan keamanan baru.

Dalam keterangan di Istana Elysee, Paris, ia menuturkan sebanyak 2.680 personel akan direkrut dalam tempo tiga tahun mendatang guna menyelidiki ekstremisme. Pasalnya, setidaknya 1.300 orang di Prancis dicurigai terlibat dengan kelompok-kelompok jihad dan harus dipantau.

“Satu hal sudah jelas, jumlah orang yang diradikalisasi yang mungkin melancarkan serangan di Prancis meningkat,” ujar Valls.

“Menteri dalam negeri dalam pertemuan kabinet mengatakan sekitar 1.300, baik warga negara Prancis atau warga asing, perlu dimonitor karena mereka terlibat dalam jaringan jihad yang berkaitan dengan konflik di Suriah dan Irak,” ujar perdana menteri Prancis.

Menurut Valls, pemerintah akan mengalokasikan dana hampir US$500 juta untuk memperkuat kemampuan mengatasi terorisme.

Mainkan Keyboard, Musisi Suriah Dicambuk ISIS

Mucara.com -    Sebuah video yang diunggah kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ke internet menampilkan model penegakan hukum yang dilakukan kelompok itu di wilayah yang dikuasainya saat ini.

Dalam video itu diperlihatkan anggota kepolisian ISIS di kota Bujaq, tak jauh dari kota Aleppo, Suriah, tengah memukul seorang pria dengan menggunakan sebatang tongkat bambu di depan publik.

Pukulan itu ternyata adalah hukuman bagi pria yang ternyata adalah seorang musisi. Dia kedapatan tengah memainkan alat musik keyboard miliknya. Anggota polisi ISIS menganggap memainkan keyboard merupakan hal yang sejalan dengan Islam.

Di bagian lain video itu diperlihatkan dua buah keyboard yang dihancurkan setelah polisi ISIS menggerebek kediaman musisi pria itu.

Berdasarkan teks yang muncul di dalam video tersebut, musisi naas itu mendapatkan hukuman cambuk sebanyak 90 kali. Sang musisi dihukum bersama dengan seorang pria yang tertangkap menyelundupkan rokok yang juga dihukum cambuk sebanyak 50 kali.

Minggu, 18 Januari 2015

7 Gereja Dibakar, Protes Charlie Hebdo di Nigeria Kian Brutal

Mucara.com -   Presiden Niger Mahamadou Issoufou mengatakan lima orang tewas dalam kerusuhan di Niamey. "Seluruhnya warga sipil," ujar Issoufou.

Di Zinder, kota pertama yang dilanda kerusuhan, korban tewas bertambah menjadi lima. Jadi, korban tewas keseluruhan sepuluh orang.

Kantor berita AFP melaporkan sekitar seratus polisi anti huru-hara berusaha membubarkan massa dengan menembakan gas air mata, tapi warga terus bergerak dan menyasar gereja-gereja Evangelis.

Polisi gagal melindungi gereja-gereja, karena banyaknya massa yang berunjuk rasa. Di depan Masjid Agung Niamey, polisi berusaha membubarkan seribu orang yang datang dengan membawa pentungan dan potongan besi.

Kedutaan Prancis di Niamey memperingatkan warganya untuk tidak keluar rumah, setelah perusuh menggeledah beberapa pusat bisnis asing.

Sebelumnya di Zinder, protes anti-Charlie Hebdo menelan korban tewas satu polisi dan tiga pengunjuk rasa. Sebanyak 45 lainnya terluka. Pusat Kebudayaan Prancis dibakar, dan toko-toko milik umat Kristen dihancurkan.

Niger relatif negara yang aman, dengan seluruh penganut agama hidup berdampingan. Namun mereka menjadi brutal ketika edisi khusus Charlie Hebdo, yang bergambar kartun Nabi Muhammad mengucapkan Je Suis Charlie, berusaha dipasarkan di negeri itu.

Charlie Hebdo adakan majalah satir Prancis yang menjadikan penistaan agama sebagai cara mengangkat tiras, dan mempertahankan kelansungan penerbitan. Sebelum penyerangan ke kantornya, tiras Charlie Hebdo hanya 31 ribu dan mulai meminta donasi dari pelanggan setia agar majalah tetap bertahan.

Kini, Charlie Hebdo menangguh jutaan euro dari penjualan lima juta eksemplar edisi khusus pasca serangan mematikan ke kantornya, Rabu (7/1).

Di belahan dunia lain, Charlie Hebdo menimbulkan radikalisme baru. Niger yang biasa damai, kini menjadi negara paling brutal memprotes penistanaan agama Islam.

Austria Ingin Mundur Dari Forum Kerukunan Umat Beragama Dunia

Mucara.com -   Reuters mengabarkan Sabtu (17/1/2015), dalam pernyataannya, Wrner Faymann menjelaskan lembaga itu tidak memenuhi seluruh mandat dan dialog yang menjadi dasar hak-hak asasi manusia. Kami tidak akan memberi toleransi. Karena itu saya minta segera keluar, katanya dalam wawancara dengan harian Der Standard.

Austria merupakan salah satu negara yang mengecam hukuman 1000 kali cambuk terhadap blogger Saudi Raif Badawi. Kementerian luar negeri Austria memanggil Dubes Saudi untuk menyampaikan protesnya. Sementara itu Menlu Austria Sebastian Kurz juga bersikap sama, demikian juga Presiden Austria Heinz Fischer dan Kardinal Christop Schoenborn.

Pusat Dialog Antar Agama dan Budaya, KAICIID yang dibuka 2012, tidak hanya didanai oleh Pemerintah Riyadh saja. Badan tersebut hasil kesepakatan yang diteken oleh Austria, Spanyol dan Arab Saudi. Sedangkan Gereja Katolik Vatikan, membentuk pengamat dan menempatkan wakilnya di jajaran komisaris KAICIID, yang terdiri dari wakil-wakil berbagai agama. Tiga dari Katolik, tiga orang Muslim, seorang Yahudi, Hindu dan Budha.

November silam, para ulama Muslim, Kristen dan Yahudi mengutuk kekerasan yang dilakukan kelompok Jihad Islam seperti ISIS dalam konperensi KAICIID. Sampai kini belum ada komentar resmi dari KAICIID soal pernyataan Kanselir Austria Werner Faymann.